Disarikan dari Kitab “Kimya’ Al-Sa’adah”
ALLAH SWT:
Mengenalnya sebagai Kenikmatan Tertinggi
~Abu Hamid Al-Ghazali~
SETIAP kebahagian
memiliki tingkat kenikmatan dan kelezatan yang berbeda. Perbedaan terbentuk
secara alamiah. Misalnya, kenikmatan terbaik bagi mata adalah ketika melihat
hal yang Indah; kelezatan tertinggi bagi telinga adalah mendengar suara yang
indah dan baik. Hal itu juga berlaku bagi kalbu seorang mukmin. Kenikmatan dan
kelezatan tertinggi bagi kalbu adalah mengenal Allah swt. Karena mengenal Allah
swt sudah dikhususkan oleh Allah azza wa jalla bagi kalbu manusia.
Mengapa manusia begitu bahagia bilamana mengenal
Allah swt?
Rasa bahagia itu adalah hal yang alami.
Individu manapun, ketika ia tidak mengenal sesuatu dan lalu mengenalnya, maka
sudah pasti ia akan bahagia dengan perkenalan itu. Seperti permainan catur
misalnya. Ketika seseorang tak paham bagaimana memainkannya, lalu ia berusaha
mencari tahu dan ilmu bagaimana bermain catur, tatkala ia mampu, maka hatinya
akan berbahagia. Bahkan ia akan candu dan sibuk bermain catur ketika ia paham
bagaimana cara memainkannya.
Begitu juga mengenal Allah swt. Apabila seseorang
sudah mengenal Allah azza wa jalla, hatinya akan selalu berbahagia, dan
lapang. Bahkan ia tidak akan sabar untuk musyahadah, atau bertemu dan
menyaksikan Allah swt secara langsung. Itulah kelezatan tertinggi bagi hati
manusia. Kita tahu, mengenal sesuatu yang Maha Besar, maka kelezatan yang
didapatkan juga berlipat ganda. Sebagaimana jika orang kenal, dan bertemu
dengan seorang perdana menteri, tentu ia bahagia. Tapi tingkat kebahagian akan
lebih tinggi bilamana ia kenal dan bertemu dengan seorang Raja. Begitu pula
halnya mengenal, hingga kelak musyahadah Allah swt secara langsung.
Betapa tidak, tidak ada sesuatu di dunia; maupun diakhirat yang lebih mulia
ketimbang Allah swt.
“Kemulian makhluk pun bersumber dari Allah
swt. Setiap keajaiban makhluk pun adalah ciptaan Allah swt. Sehingga, tidak ada
kebahagian yang lebih tinggi dari ‘mengenal atau ma’rifatullah.’
Kenikmatan syahwat dunia tergantung pada hal yang bersifat fisik, dan ia akan
hilang bersama wafatnya manusia. Kenikmatan semacam itu tidak lah abadi.
Sementara, kenikmatan mengenal Allah atau ma’rifatul rubbubiyyah, meski
berhubungan dengan hati manusia, ia akan selalu langgeng. Karena hati manusia
tidak hancur lebur dengan sebuah kematian.” Tulis Imam Al-Ghazali. Karena kelezatan
tersebut adalah kenikmatan yang sangat besar, dan penuh cahaya. Sebab ia keluar
dari sesuatu yang gelap gulita kejahilan menuju cahaya, yaitu cahaya Illahi.
***
PADA Bab terakhir, Abu Hamid Al-Ghazali, atau
lebih populer dengan Imam Ghazali, menjelaskan susunan fisik dan anggota tubuh
manusia serta fungsi-fungsinya berdasarkan ilmu tasrih, atau ilmu
anatomi.
Menurut Imam Al-Ghazali, bahwa manusia
diciptakan dengan metode dan ukuran yang paling sempurna. Sehingga, tidak
keajaiban yang melebihi penciptaan manusia itu sendiri. Dari air yang hina,
atau main mahin, menjadi bentuk yang sangat sempurna. Allah swt pun
menjelaskannya, melalui firmannya dalam Q.S. Al-Insan: 2, “Sesungguhnya
Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami
hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia
mendengar dan melihat.”
Mengapa
Allah swt mampu menciptakan manusia dengan proses yang begitu sempurna?
“Ilmu
Allah swt meliputi segala sesuatu.” Kata Imam Al-Ghazali. Karena penciptaan
manusia sangatlah sempurna, maka hal itu tidak mungkin terjadi tanpa ilmu yang
maha sempurna pula.
Allah swt menciptakan manusia dengan
sebaik-baik ciptaan, adalah bukti bahwa kelembutan; kasih sayang; dan cinta Allah
swt meliputi segala hal. Bahkan tak terhingga. Sehingga di dunia, ditemukan ada
banyak ciptaan Allah swt yang sangat menakjubkan.
Karena itu, menurut Imam Al-Ghazali, mengenal
dan memahami keajaiban ciptaan Illahi, serta mengenal keagungan dan qudrat Allah
swt, merupakan kata kunci mengenal hakikat hati. Sebab diri manusia menurut
Imam Al-Ghazali, seumpama seekora kuda. Akallah sebagai penunggannya. Selama
akal mampu membuat orang mengenal kekuatannya sebagai seorang manusia, maka ia
tidak akan menjadi orang yang bangkrut.
Karena itu, dalam tulisan akhirnya dalam
kitabnya “Kimya’ Al-Sa’adah”, Imam Al-Ghazali menasehati manusia agar
senantiasa mengenal diri, dan merawat hati. Manusia, sebaiknya selalu menjaga
hati dengan selalu menyibukkan diri pada hal-hal yang dapat membawa pada
kebahagian sejati, yaitu kebahagian kelak yang akan didapatkan diakhirat.
Dengan cara itu, maka hati manusia akan dapat terbebas dari hal-hal yang dapat
menyerupai manusia dengan hewan.
Akhir kata, kita berlindung kepada Allah dari
hal-hal yang dapat menggurangi kebahagian kita kelak di akhirat. Dan, segala
puji bagi Allah swt serta shalawat dan salam agar senantiasa tercurahkan kepada
sayyidina Muhammad berserta kepada seluruh keluarga dan sahabat beliau.[]
Versi cinematic
tulisan ini dapat disaksikan pada channel Narasi Kata di YouTube.
Jangan lupa
click-->
https://www.youtube.com/watch?v=nKcSfJcmix0
