About Me

Amil Yang Dipercaya (Bagian 1)







Amil Yang Dipercaya (Bagian 1)
@Nana Sudiana

"Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan di antara kamu ada orang yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kamu dari mereka untuk menguji kamu, dan sesunguhnya Allah telah memaafkan kamu" (QS Ali Imran [3]: 152).

Sahabat Amil dimanapun berada...

Menjadi amil, tentu tak mudah. Sudah begitu, bila tak dipercaya publik, pastilah serasa kiamat saja. Mengapa sebegitu pentingnya kepercayaan ini bagi amil, tak lain karena memang jalan hidup di dunia amil adalah jalan yang mengharuskan adanya kepercayaan yang tumbuh alamiah dan tanpa paksaan.

Jalan amil sejatinya adalah jalan dakwah. Tidak mungkin amil keluar dari logika dakwah. Di jalan ini, kepercayaan harus dibangun alamiah dan penuh kesadaran. Tiada iming-iming atau bahkan paksaan. Bila amil telah dipercaya, maka bukan tak mungkin tumbuh keyakinan dan semangat pihak lain untuk membantu dan bahkan membela para amil.

Muzaki dan mustahik, bila telah merasakan manfaat zakat dan yakin bahwa amil mampu melakukan upaya-upaya serius membela kehidupan kaum dhuafa, pastilah dengan tak diminta akan menjadi bagian tak terpisahkan dari gerakan zakat. Mereka bahkan bisa saja menyerahkan segala apa yang dimilikinya, baik itu harta, jiwa atau usia, pikiran dan waktu demi jalan kebaikan yang digagas para amil. Inilah sejatinya situasi ideal relasi amil, muzaki dan mustahik. Muzaki percaya pada amil dan lalu amil pun bekerja dan dipercaya mustahik. Dari relasi kuat ini diharapkan amil mampu menjadi solusi nyata atas kesulitan-kesulitan hidup para mustahik.

Menuju Upaya Untuk Dipercaya

Sebelum seorang amil ingin dipercaya pihak lain. Ia harus membangun pemahaman yang utuh tentang makna kepercayaan ini. Soal kepercayaaan ini sesungguhnya tidak mudah karena ada konsekuensi yang berat di dalamnya. Setidaknya ada tiga (3) hal yang harus dibangun seorang amil dan komunitasnya untuk bisa dipercaya dengan baik. Ketiga hal itu adalah kekuatan individu, kekuatan barisan(komunitas) dan kekuatan kesinambungan (istimror).

Pertama, kekuatan individu

Untuk bisa dipercaya sepenuhnya, seorang amil setidaknya memiliki tiga hal utama yakni, pemahaman yang baik, keikhlasan yang tulus dan semangat yang terus menerus di jaga (berkesinambungan/istimrar).

Pertama, pemahaman yang baik. Mengenai pemahaman, ini amat penting kedudukannya. Pemahaman yang baik seorang amil amat menentukan bagaimana ia bekerja dan beraktivitas di dunia amil. Seorang amil harus paham dan mengerti bahwa pada dasarnya pilihan ia untuk bergabung dan menjadi barisan amil adalah jalan dakwah.

Bila pemahaman ini telah ia dapatkan, ia tak akan memiliki keraguan untuk melakukan apapun, walau bahkan berat dan tak mudah. Ia juga akan memahami bahwa setiap bagian yang melibatkannya tentu tak luput dari tantangan dan rintangan yang akan ia temui didalam dinamika yang akan ia tempuh di jalan dakwah ini. Hal ini penting dipahami karena begitu ia tak mengerti dengan baik, bisa jadi ia hanya akan menghabiskan umur dan jiwanya di jalan ini. Yang lebih tragis malah, ia merasa di jalan dakwah, padahal sejumlah perilakunya tak mencerminkan jalan dakwah sama sekali. Malah bisa jadi ia bermaksiat di jalan yang ia yakini jalan dakwah. Naudzubillah.

Jalan dakwah melalui gerakan zakat bila kita pahami bukanlah jalan yang baru. Rasulullah Muhammad SAW dan para sahabat sejak awal telah mengusung jalan ini bersama para sahabat dan pengikutnya sejak awal periode dakwah kenabian. Jalan ini pula yang diteruskan para sahabat, ulama dan orang-orang soleh hingga saat ini.

Kedua, keikhlasan yang tulus. Ketika menjalani jalan dakwah amil ini, tentu bukan saja diperlukan kekuatan fisik dan mental, juga diperlukan keikhlasan dan keistiqomahan dalam menjalaninya. Pastikan juga, jalan yang akan dilewati nantinya benar-benar jalan kebaikan dan kebenaran yang sesuai dengan yang Allah dan Rasul-Nya ajarkan. Ketika keyakinan ini telah didapat, lalu tumbuh dalam sanubari terdalam, insyaallah sehebat apapun badai ujian kehidupan yang akan dijalani seseorang yang memilih jalan amil sebagai jalan hidupnya, ia tetap akan teguh dan tak mudah goyah. Keyakinan yang kuat pula, yang akan meneguhkan pandangan hidup amil dalam memilah apa yang boleh atau tidak ia lakukan. Amil yang teguh pendiriannya, laksana batu bata bangunan gerakan zakat dan penopang pilar peradaban zakat yang akan dibangun di masa depan.

Amil yang terdidik dengan pemahaman dasar yang kuat dan baik bukan hanya akan menjadi bagian dari proses mensejahterakan kaum dhuafa, namun juga mengadvokasinya hingga ia mandiri hidupnya dan merdeka dari segala derita kefakiran dan masalah lainnya.

Ketiga, semangat yang terus menerus di jaga (berkesinambungan/istimrar). Para amil yang baik, akan terus setia di garis edarnya, mereka akan hadir dan tetap teguh seiring peristiwa demi peristiwa yang terjadi di dunia gerakan zakat. Bila mereka ditanya kenapa mereka tetap bersetia di jalan dakwah zakat ini, jawabannya bisa jadi : "Sesungguhnya kami bekerja bukan karena manusia, juga bukan karena ingin pujian dan penghargaan, apa yang kami lakukan hanyalah mengharap ridha-Nya dan diberikan kemudahan hidup dan keberkahan serta kebaikan di dunia dan akhirat".

Para amil sejati, ini punya tekad yang kuat untuk mengabdi bagi jalan kebaikan. Mereka secara serius terus menerus memelihara diri agar senantiasa istiqomah di jalan dakwah ini. Mereka juga tak gentar dengan rintangan, tekanan maupun ancaman atas pilihan yang telah mereka ambil. Mereka bahkan terus menebarkan spirit perjuangannya bagi generasi baru yang bergabung dalam gerakan zakat ini.

Amil sejati sejak awal disiapkan untuk memiliki karaktek adaptif dan jauh dari putus asa. Mereka orang-orang yang di dalam jiwanya senantiasa tersedia harapan yang besar atas apapun yang terjadi. Mereka tak mudah suram cara pandangnya, apalagi mudah kecewa atas sesuatu yang terjadi. Amil sejati hatinya selalu menyalakan cita-cita dan keinginan untuk menjadi bagian kebaikan sesama. Mereka terus belajar untuk tak cinta dunia dan menyiapkan diri kapanpun menghadapi kematian.

Kedua, kekuatan barisan atau komunitas

Individu-individu yang sudah baik tadi tak boleh dibiarkan sendiri-sendiri dan tercerai berai. Mereka harus diikat dan disatukan dalam barisan yang baik. Barisan atau komunitas yang didalamnya ada penataan, pengingatan dan sekaligus pembinaan. Ini tak lain agar semua individu yang baik tadi bisa ditata dan dioptimalkan dalam barisan yang rapi dan kuat.

Mengapa kita harus menjaga barisan, setidaknya ada beberapa jawaban, namun jawaban terkuat tentu saja karena kita semua ingin lebih disukai Allah SWT. Hal ini sebagaimana pernyataan Allah SWT, sebagaimana dalam QS. As Shaff (61) : "Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berperang dijalan-Nya dalam barisan yang teratur, mereka seakan-akan seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh".

Barisan yang tersusun rapi lebih Allah cintai daripada barisan yg tercerai berai. Dan barisan yang tersusun rapi akan jadi barisan yang kuat. Kuatnya barisan ini tiada lain karena kuatnya ukhuwah. Semakin kuat ukhuwah akan semakin kuat barisannya. Makna lain dalam soal barisan ini adalah adanya keteraturan. Dan sebagaimana soal keteraturan, tentu saja ada unsur yang mengatur dan diatur di dalamnya. Artinya dalam sebuah barisan yang tersusun rapi harus lahir sistem kepemimpinan yang baik dan berfungsi menata dan mengorganisir semua potensi baik yang ada dalam barisan.

Ingatlah, dalam sejumlah peristiwa penting kehancuran peradaban Islam salah satunya adalah munculnya para penentang yang ada dalam barisan umat Islam. Mereka bahkan bukan hanya tak sependapat, malah justru bekerjasama dengan musuh-musuh Islam dan menjadi pintu masuknya kekuatan yang akhirnya menghancurkan barisan umat Islam. Penentangan ini, bila kita telusuri ternyata awal kemunculannya dari hilangnya kepercayaan pada para pemimpin barisan umat.

Jadi, barisan yang kuat akan rapuh bila penyakit ketidakpercayaan mulai berkembang dan lahir pula para pengkhianat yang terus memanfaatkan situasi ketidakpercayaan ini. Bila sudah kehilangan kepercayaan kepada pimpinannya maka barisan sekuat apapun, akan mudah tercerai berai. Tak ada kesatuan hati dan gerak, apalagi ketaatan pada pimpinan barisan.

Dan kalau dalam sebuah barisan atau komunitas sudah tidak ada ketaatan lagi, maka sejatinya hilanglah makna barisan atau komunitas ini. Dan bicara pentingnya ketaatan, tentu kita tak menafikan akan keharusan adanya pimpinan barisan yang kuat dan dipercaya. Kuat di sini maknanya tentu saja bukan semata fisik, namun keyakinan dan spirit untuk terus menjaga dan mengayomi barisan yang ada. Pemimpin ini penting karena walau ia kadang simbolik sifatnya, namun ia adalah muara dari beragam kepentingan dan juga harapan orang-orang yang ada dalam barisan.

Memilih dan mendapatkan pemimpin barisan jelas tak mudah. Apalagi ketika pemimpin yang akhirnya dipilih ini untuk menjalani kepemimpinannya di hadapan barisan yang jadi tanggungjawabnya. Mengapa mendapatkan pemimpin ini berat, karena sejatinya setiap orang ingin untuk menghindar menjadi pemimpin. Apalagi pemimpin di gerakan zakat yang benefitnya  secara personal hampir tak ada, kecuali besarnya pahala di sisi Allah SWT.

Mencari dan mendapatkan pimpinan barisan di gerakan zakat tak lain harus melalui cara sesuai syariah, yakni melalui mekanisme syuro. Syuro dalam implementasinya bisa berupa Munas yang menghadirkan seluruh komponen yang berkepentingan terhadap gerakan zakat ke depan. Lewat syuro atau Munas ini akhirnya didapatkan para pimpinan gerakan zakat yang dipilih. Mereka lalu diberikan beban dan amanah untuk memandu barisan gerakan zakat. Ini tentu pekerjaan yang berat, namun bila syuro telah menghendaki, maka siapapun yang terpilih harus melaksanakan amanah ini sebaik-baiknya, baik dalam kondisi ringan maupun berat. Baik dalam kondisi mudah maupun sempit.

Model penunjukan berbasis Surat Keputusan (SK) bisa juga menempatkan seseorang sebagai amil, bahkan pimpinan amil. Ia bahkan dengan dukungan penuh legalitas kemudian merasa memiliki kekuatan apa saja untuk menjadikan dirinya punya kewenangan sebagai pihak yang punya otoritas lebih dari yang lain. Namun, bila ternyata amanah yang ada padanya tak dipahami dengan baik, bukan hanya akan menjadi beban bagi dirinya, bahkan akan menjadi beban bagi gerakan dakwah zakat yang sedang dibangun dan dikembangkan. Otoritas tanpa kelapangan jiwa, kebijaksanaan dan kemauan mendengar suara-suara yang berkembang hanya akan menjadi pemicu timbulnya persoalan demi persoalan di dunia gerakan zakat.

Kembali ke soal koordinasi dan konsolidasi. Bisa jadi di tengah dinamika yang ada, ada sejumlah kalangan yang merasa memiliki potensi yang sangat baik dan bahkan melebihi potensi yang ada sebelumnya. Jawabannya tentu dikembalikan pada soal komitmen dan kesatuan barisan. Bila sejumlah pihak merasa lebih baik dari yang lain, maka letakan potensi besar ini dan wakafkan untuk kepentingan bersama dalam barisan. Enyahkan ego kelompok dan tetaplah memilih bersama dalam barisan.

Lalu bagaiaman bila ada yang merasa tak terwakili kepentingannya? Bahkan ia memilih keluar dari barisan. Jawabannya ya biasa saja. Hal itu sebagai ujian soliditas dan keikhlasan masing-masing pihak dalam bersama-sama dalam sebuah barisan. Bagi barisan yang ada, mungkin memang sudah saatnya dapat ujian supaya semakin dewasa. Semoga seusai ujian ini Allah SWT memberikan hasil terbaik bagi perjalanan barisan ini di masa yang akan datang.

Sejatinya, ujian apapun, termasuk adanya yang tidak sepakat atau punya pandangan berbeda biasa saja. Di tengah-tengah dinamika yang ada kita semua tentu berharap Allah kembali menyatukan hati-hati seluruh komponen barisan zakat untuk menyatu dan berada dalam bagian gerakan yang sama. Siapapun yang ada, mari sama-sama memperbaiki kejujuran dalam berjuang, keikhlasan tujuan serta kekuatan istiqomah dalam menjalani pilihan-pilihan yang diambil.

Barisan apapun yang dipilih dan diikuti, semoga Allah tujuannya dan akhirat tujuan akhirnya. Dan barisan seperti ini tentu saja akan diikuti hati-hati yang soleh dan jiwa-jiwa layaknya seorang mujahid di jalan dakwah. Sebaliknya,  bila barisan yang diikuti hanya dunia tujuannya, harta alat perjuangannya, maka bisa dipastikan barisan ini hanya akan di sambut oleh para oportunis yang tidak akan bisa menyatu hati mereka, kecuali karena alasan dunia semata. Persatuan mereka semu dan amat nisbi sifatnya.

Ketiga, kekuatan kesinambungan (istimror)

Kata Istimror dapat  berarti berulang-ulang, kontinyu atau konsisten. Kata ini sebenarnya bukan kata baru dalam khasanah dakwah Islam. Ajaran Islam sendiri telah mengajarkan kita untuk istimror, yakni melakukan amalan secara terus-menerus, berulang-ulang, menjaga konsistensi dalam beramal. Istimror dalam bahasa syari’at adalah istiqomah. Istiqomah adalah keteguhan prinsip mempertahankan amalan di waktu lapang maupun di waktu sempit. Istiqomah juga merupakan jalan menuju husnul khotimah.

Dalam menjalani dinamika yang ada dalam gerakan zakat, seorang amil harus istimror. Ia tak cukup semangat di awalnya saja lalu hilang semangat itu seiring waktu yang berjalan. Seorang amil harus terus menerus melakukan aktivitasnya dengan semangat yang sama, juga dengan menjaga kualitas amalan yang bahkan harus lebih baik lagi. Mengapa begitu, karena Allah sangat mencintai perbuatan yang istimror (kontinyu) meskipun sedikit.

Menjadi amil yang istimror dalam gerakan zakat memang sulit karena sifat manusia yang mudah bosan dan semangatnya yang turun naik. Istimror ini juga membutuhkan ketekunan untuk terus melakukannya. Maka dalam banyak hal, keberhasilan dan kegagalan seorang amil ditentukan oleh sifat istimror dibanding faktor lainnya.

Dengan menjaga kelurusan niat dan menunjukan kesungguhan amalan yang nyata. Bukan tidak mungkin kepercayaan akan mengalir deras, bahkan lebih dari yang diharapkan. Dengan menjaga istimror dalam soal kemurniaan, kelengkapan, kedalaman dan kesyumulan dalam amal-amal nyata di gerakan zakat, bukan tidak mungkin akan mampu menawan hati dan mengikat kepercayaan banyak pihak. Sejatinya, hati yang baik dan cenderung pada kebaikan akan mudah terpesona dengan kebaikan,  keikhlasan dan kesungguhan berbuat dan beramal. Ibaratnya sinyal pesawat telepon seluler, ia akan mudah berkomunikasi dan berinteraksi dengan yang kualitas dan kecenderungannya tak jauh berbeda.

Bila sudah yang baik-baik yang muncul dan menjadi hiasan diri dari para amil di dunia zakat, maka kita akan segera mendapati orang-orang kaya yang soleh dan para muhsinin yang baik akan dengan mudah mendukung dan menjadi bagian dari kekuatan gerakan zakat. Mereka tak sungkan dan ragu menggabungkan diri dengan gerakan zakat dalam membantu agar nasib dhuafa jadi lebih baik lagi. Mereka bahkan bisa menyokong apapun dan terus menambahkan kekuatan dan kemampuan yang dimilikinya untuk terus memperluas gelombang kebaikan yang diciptakan

Sesungguhnya gelombang kebaikan ini milik umat, bila Allah telah memanggil hati banyak orang untuk bergabung menjadi bagian dari kebaikan, maka tak akan ada pihak manapun yang akan mampu menghalanginya. Jalan dakwah zakat ini semakin hari mungkin semakin tak mudah, namun bila telah tumbuh rasa saling percaya dan saling dukung, maka sesulit apapun, mudah-mudahan akan mampu diatasi secara bersama-sama.

Jalan dakwah zakat dan filantropi Islam ini juga bukan jalan singkat. Telah banyak para pendahulu yang telah memulai, bahkan sebagian diantaranya telah meninggal dan gugur dalam tugas-tugasnya di jalan ini. Tentu saja, kini giliran kita memastikan bahwa kitalah penerusnya dan akan senantiasa menjaga amanah dan kepercayaan yang ada secara terus-menerus hingga akhir hayat.

Kita juga mari berharap agar di jalan ini kita hidup kini dan nanti semoga menjadi jalan kebaikan dan jihad dalam rangka memperbaiki banyak urusan, terutama menciptakan kebaikan bagi dhuafa dan kehidupannya. Di depan kita sejatinya pula telah banyak yang bertahan dan tetap menjadi bagian dari jalan dakwah ini dengan waktu yang begitu lama tanpa merasa lelah dan lemah. Jalan dakwah yang mereka jalani hingga kini semoga masih jalan yang sama dengan yang kita tempuh. Semoga pula masih dalam spirit yang sama di masa ketika para pendahulu jalan dakwah ini memulai pada pertama kalinya.

Wallahu'alam bishowwab.

Jakarta-Jogjakarta, 3 Mei 2018

Bersambung ke Bagian 2