Dalam Islam, memiliki harta bukanlah sesuatu yang dilarang. Justru sebalinya, keberadaan harta dalam Islam dibutuhkan terutama untuk tujuan dakwah Islam. Dahulu ada banyak sahabat yang dikenal karena hartanya yang begitu banyak. Namun, kita sering lupa, bahwa mereka tak hanya dikenal punya harta tapi juga bertanggung jawab atas hak hartanya pada diri orang lain.

Islam mengatur bagaimana harta seharusnya didapat dan juga dikeluarkan. Islam mengajarkan agar kita menyeimbangkan pengeluaran harta kita. Bukan sekedar mengumpulkan dan mengumpulkannya hingga menjadi banyak tapi tidak berarti sama sekali. 

Apa jadinya jika kita kekeuh tidak mau mengikuti aturan Islam atas harta? Tidak mau mengeluarkannya untuk membantu orang-orang yang tidak berpunya?

Dalam surat At-Taubah ayat 34-35, Allah memberikan ancaman yang tidak main-main:

“…Dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih pada hari dipanaskan emas perak itu dalam neraka Jahanam, lalu dibakar dengannya dahi, lambung, dan punggung mereka, (lalu dikatakan) kepada mereka, Inilah harta benda kalian yang kalian simpan untuk diri kalian sendiri, maka rasakanlah sekarang (akibat dari) apa yang kalian simpan itu.”

Ingatlah, setiap perbuatan akan mendapatkan balasan yang setimpal. Kekikiran kita pada harta dan hanya peduli pada diri sendiri menjadikan Allah pun rela akan hal itu. Buktinya? Allah jadikan harta yang kita jaga hanya untuk diri sendiri itu benar-benar untuk kita dengan memanaskan, membakarkannya ke seluruh tubuh kita, diri kita.

Tidaklah keburukan diri kita kecuali hanya akan membawa pada kesengsaraan. Apakah yakin akan kuat menahan panasnya emas yang dipanaskan? Dibakarkan ke tubuh kita? Bukankah jika tangan kita terkena penggorengan panas saja sudah sakit sekali? Terkena air panas sedikit sudah melepuh?

Jangan tahan harta. Jangan pikirkan hanya untuk kesejahteraan diri semata. Jangan hanya memperkaya diri tanpa peduli bahwa ada hak yang harus ditunaikan di dalamnya.

Tidaklah harta melainkan titipan dari Allah. Tidak pantas bagi kita mengklaimnya milik kita. Bukankah mudah bagi Allah menjadikan harta itu hilang dalam sekejap? Lalu mengapa kita terlalu menyayangi harta?

Jadi apakah yakin ingin merasakan rasa harta sendiri yang dipanaskan itu? Apakah siap dengan panasnya yang luar biasa?