“Wah, dia sedekah 10 juta tapi kenapa mau, ya, ditulis namanya di layar itu. Bukannya jadi riya?”
“Duh, itu orang kok aneh malah sedekah sama pengamen tatoan. Kan, nanti paling dipakai buat rokok. Kenapa nggak sama yang lain aja, sih?!”
“Produk dia jadi sponsor acara terus minta disebut sering-sering waktu acara. Nggak ikhlas bukan, sih, kalau gitu?”
Entah apa yang sebenarnya terbesit dalam diri kita ketika mengatakan hal-hal demikian. Benar memang, bahwa lebih mudah membuat orang lain berkaca daripada menyuruh diri kita sendiri untuk berkaca. Mudah melihat gajah di seberang daripada kuman di pelupuk mata.
Apakah dengan membicarakan hal tersebut kita menjadi lebih baik? Apakah dengan mengutak-atik amalan orang lain kita jadi mendapatkan keuntungan? Bukankah sebaliknya hanya membuat kita memperburuk diri sendiri?
Pun jika dipikirkan ulang, sama sekali tidak ada manfaatnya kita menghabiskan energi dan waktu untuk membicarakan amal orang lain. Walau jelas sekalipun amalan itu dihinggapi riya atau kesombongan lainnya. Tapi, bukankah amalan adalah urusan dia dengan Rabb-Nya? Bukankah kita tidak diminta menilai amal mereka? Maka, cukuplah Allah yang menilai dan menghisabnya.
Kadang kita mengucapkan kata-kata demikian seolah kita telah mampu menyaingi amalan tersebut. Padahal kenyataanya, kita hanya bisa mengomentari amalan mereka sementara sesungguhnya kita tidak bisa menandingi amalan itu atau bahkan tidak tertarik dalam urusan amal.
Riya atau tidak, sombong atau tidak, bukan urusan kita. Kita tidak akan pernah benar-benar tahu niat dan tujuan orang lain. Kita tidak akan pernah memahami hal yang tampak semata. Bukankah banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan dengan perkataan penjelasan sekalipun?
Maka, yang harus kita urus itu adalam sibuk dengan amalan diri sendiri. Hisab, muhasabah diri kita sudah seperti apa usaha kita dalam beramal. Sudahkah amalan itu berkualitas? Sudahkah niat kita benar?
Paling penting adalah sudahkah kita beramal? Layaknya mereka yang mampu beramal tapi kita ribut dengan amalan mereka?
Jangan jadi orang yang umurnya sibuk mengurusi amalan orang lain. Padahal sendirinya tidak beramal. Sendirinya masih kurang amalan. Sendirinya masih pelit dalam beramal dan perhitungan.
Takutlah akan amal sendiri yang tidak diterima ketimbang membicarakan diterima atau tidaknya amalan orang lain. Jauhkan diri dan bentengi setiap hasrat kesibukan mengurusi amalan orang lain muncul.
Giatlah memohon pertolongan Allah dan perbanyak dzikir agar lisan kita sibuk dengan kebaikan bukan dengan keburukan.
