Megeluarkan harta untuk bersedekah, berinfaq, atau berwakaf mesti sering kita dengarkan dan kerjakan. Dalam kondisi tersebut hati dan jiwa kita mensugestikan bahwa hal tersebut baik dan kita siap mengeluarkan harta untuk hal tersebut.

Namun, akan beda jadinya jika kita diposisikan dalam kondisi mengeluarkan harta tapi bukan secara langsung dalam rangka bersedekah. Taruhlah, kita hendak mendatangi sebuah kajian tabligh akbar. Saat dihitung, ternyata ongkos perjalanan menuju lokasi lumayan besar. Alhasil, kita urung untuk datang.

Atau situasi lain, ketika kita melihat sebuah buku agama yang sangat bagus tapi harganya cukup mahal. Dan sekali lagi, kita urungkan niat membelinya dan memilih buku lain yang jauh lebih murah.

Dua hal di atas dan kondisi lain sejenis sering tidak kita sadari bahwa sebenarnya di dalamnya ada poin ibadah. Bukankah datang ke majelis ilmu adalah ibadah? Bukankah membeli buku yang menambah keimanan adalah ibadah? Lalu, mengapa kita tiba-tiba menjadi perhitungan saat dihadapkan dengan kondisi ini?

Jangan pelit, jangan perhitungan. Ingatlah bahwa yang kita lakukan tersebut adalah ibadah juga. Maka mengeluarkan modal besar untuk mengerjakannya tak akan mengapa. Percayalah bahwa selama niat kita benar, maka Allah yang akan mengganti modal tersebut.

Dahulu, Imam Ahmad mendengarkan adanya anjuran untuk berbekam. Setelah mendengarnya, ia langsung ingin mengamalkan. Ia pun kemudian berbekam walau harus membayar 1 dinar. Ingat, 1 dinar tidak sedikit, ia setara dengan 4,25gr emas. Bisa kita bayangkan berapa besar modal yang dikeluarkan Imam Ahmad hanya untuk menjalankan satu ibadah yang dianjurkan?

Jangan dinilai dan ditakar secara duniawi karena pasti akan terasa beratnya. Niatkanlah hal tersebut sebagai bentuk amal harta bagi kita selayaknya kita bersedekah atau berinfak di kotak amal.

Jangan terus-terusan menakar sesuatu padahal itu adalah ibadah yang mungkin akan membawa kita ke dalam surga. Jangan terlalu perhitungan dalam modal untuk beribadah.

Bukankah untuk hal-hal dunia seperti makan di café, belanja pakaian, belanja keinginan kita dengan enteng mengeluarkannya? Maka, harusnya mengeluarkan modal untuk ibadah jauh lebih enteng daripada hal-hal di atas.