About Me

Awas! Diri Sendiri Bisa Jadi Faktor Kegagalan


Di beberapa kesempatan, Allah sering menguji kita dengan satu kata ini “kegagalan”. Bahkan hampir semua makhluk di bumi pernah mengalaminya, termasuk nabi dan rasul sekalipun juga Allah berikan ujian ini. Ini menandakan bahwa kamu tidak harus sedih saat mengalami kegagalan. Sebab, tak hanya kamu satu-satunya yang mengalaminya di dunia ini.

Saat kegagalan terjun bebas dalam suatu urusan kita, sikap terbaik ‘menemui’nya adalah dengan menerima untuk kemudian melakukan evaluasi. Menemukan titik kesalahan yang membuat Allah memberikan ujian kegagalan itu.

Di bagian evaluasi inilah, kita sering lalai dan melupakan satu faktor. Itu dia! Evaluasi diri sendiri. Kita kadang terlalu fokus memberikan evaluasi pada proses yang berhubungan langsung tapi lupa pada proses yang tak berhubungan langsung, itulah dia diri kita.

Sadar atau tidak, diri kita sendiri menyumbangkan proses secara tidak langsung dalam urusan tersebut. Namun, kita lupa untuk melakukan evaluasi pada diri sendiri hingga terkadang tidak menemukan titik kesalahannya. Bisa jadi, kegagalan tersebut terjadi bukan karena proses langsungnya, tapi karena proses yang terjadi pada diri kita sendiri.

Berikut ini beberapa faktor dari diri sendiri yang seringkali menjadi penyebab kegagalan tanpa kita sadari:

1.Kebiasaan
“Bisa karena biasa” menunjukkan tidak ada yang instant di dunia ini. Sayangnya, diri kita sering mengasumsikan kesuksesan seperti kilat. Padahal sukses seringkali berasal dari kebiasaan, termasuk biasa menerima kegagalan.

Maka, kebiasaan harus dibentuk untuk mampu menekan kegagalan. Latihlah diri kita dalam kebiasaan baik dan positif. Latih juga mental untuk mencoba berbagai hal hingga kita jadi “nyaman” dengan kegagalan, dalam artian tidak sengsara dibuatnya tapi malah terus tertantang.

2. Kemauan
Iya, kita mau sukses. Kita mau berhasil. Tapi diri kita sering tidak mau dengan kegagalan. Kita mau luar biasa tapi dengan kemauan sebatas biasa saja. Nah, prinsip dasar yang harus diubah dalam diri adalah kemauan untuk coba dan gagal, coba dan gagal, coba dan gagal. Kemauan untuk menerima berhasil artinya juga kemauan untuk menerima gagal.

3.Kemampuan
Kebanyakan yang terjadi, kemampuan diri tidak didongkrak secara tepat dan maksimal. Kita sering mengalami situasi “rasanya aku bisa bikin lebih bagus, sih, tapi udahlah segini saja cukup”.

Hal-hal inilah yang kadang menjadi faktor kita gagal. Kita mampu maksimal tapi tidak melakukannya. Kita tahu yang kita perbuat masih dalam batas minimun diri sendiri. Jika kita merasakan titik ini, maka dorong dan paksakan. Ingatlah, bahwa tidaklah kerja keras kecuali dibalas Allah dengan yang lebih indah. 

4.Keterbatasan
Ingatlah bahwa tidak ada manusia yang bisa apa saja dan semuanya punya keterbatasan. Beberapa dari kita cenderung lupa akan hal ini dan merasa diri kita mampu melakukannya secara mutlak.

Padahal, ada Allah dan ada orang lain, yang harusnya kita libatkan. Kita tidak menutupi keterbatasan tapi kita berdamai dengannya. Ingatlah ada Allah tempat kembali, tempat segala keterbatasan harusnya menjadi urusan-Nya dan kita munajatkan pada-Nya.

5.Kekhawatiran
Kita tidak gagal karena kurang apik, tapi kita kadang gagal karena khawatir dengan gagal. Khawatir mutlak ada. Dia emosi yang tidak bisa kita hilangkan. Dia ada bukan untuk membuat kita lemah, sebaliknya memperkuat usaha dan munajat pada Allah.

Overthingking. Kegagalan sering hadir karena kita khawatir pada kegagalan, yang bahkan belum terjadi dan belum nampak adanya. Diri kita memberikan sugesti negatif yang akhirnya jadi kebenaran. Jadi, berhati-hatilah dengan “kekhawatiran buatan” ini.