About Me

Islam Butuh Kekuatan Anak Muda


Jika membaca sejarah-sejarah Islam di masa lalu, kita akan menemukan banyak sekali nama-nama pemuda yang tercatat prestasinya dalam perjuangan Islam. Ada yang menjadi tangguh di medang perang, ada yang cerdas dan dalam ilmunya, ada yang luar biasa ibadahnya, dan ragam kemuliaan lainnya.

Islam tak dapat dipungkiri, diperjuangkan dan ditegakkan oleh banyak anak-anak muda di masa itu. Kontribusi mereka begitu nyata di berbagai lini. Mereka acap berada di garis terdepan dalam urusan yang sifatnya “act” atau aksi nyata.

Tak salah memang jika anak muda ada di gardu terdepan. Sudah sering pastinya kita mendengar, anak-anak muda punya hal yang sangat istimewa, itu adalah semangat dan pikiran yang segar lagi menggebu-gebu. Masa muda dan usia muda adalah fase terbaik manusia untuk mengembangkan dirinya dan melakukan hal-hal produktif.

Ada yang perlu kita perhatikan sebenarnya dari kisah anak-anak muda di zaman Rasul. Kita paham betul, anak muda dan generasi tua sering dianggap ada pada irisan yang tidak bertemu. Keduanya selalu digambarkan seolah bertolak belakang. Generasi tua diidentikan dengan berpikiran tertutup, tidak suka pembaharuan, dan menjaga tradisi. Sementara, anak muda adalah kebalikannya dengan segala kedinamisan.

Lalu, apakah hal ini berlaku juga di masa Rasul? Jawabannya, tidak. Ada banyak kisah yang menceritakan bagaimana anak muda dan generasi tua justru bersinergi, saling bahu membahu dalam pergerakan Islam. Kita tidak pernah mendengar Abu Bakar yang merupakan generasi tetua berbentrokan dengan Umar yang notabenenya adalah kalangan anak muda. Sebaliknya, mereka saling bekerja sama dalam setiap aktivitas dakwah Islam.

Pun dengan pemuda-pemuda lainnya. Kita pahami bagaimana Salman Al-Farisi memberikan pemikiran mudanya yang “segar” kepada para tetua di dalam perang sehingga ide parit itu digunakan dan bukan ditolak oleh generasi tua. Padahal, bisa saja para tetua menolak ide itu karena kemustahilan dan ketidakrealistisannya. Padahal, bisa saja Salman tidak mau memberikan idenya karena tidak akan sinkron dengan para tetua.

Nyatanya? Mereka bisa berdampingan mengatur strategi. Salman berhasil menekan egonya, memutar otak mudanya dan memberikan ide yang cemerlang. Para tetua berhasil berpikir dinamis dan mendukung gebrakan baru yang diberikan anak muda. Hasilnya? Sebuah kemenangan telak yang membuat mereka begitu sumringah.

Inilah pelajaran yang harusnya kita ambil dan terapkan. Sebab, kenyataan yang kini kita hadapi di lapangan begitu bertolak belakang dengan situasi di masa Salman saat itu.

Hari ini, anak muda dan generasi tua berjalan sendiri-sendiri. Anak muda tidak ingin ikut ambil bagian dalam membantu para tetua. Anak muda hanya tahu bagaimana menjalankan rencana mereka sendiri. Tidak peduli jika para tetua sebenarnya butuh kehadiran mereka, untuk membuat suatu gebrakan.

Banyak anak muda hari ini yang sebenarnya bisa membantu para generasi tetua dalam gerakan-gerakan mereka. Banyak anak muda yang dibutuhkan ide dan aksi mereka agar terjadi perubahan sosial yang lebih baik.

Sebab kita sadar, tidak ada yang bisa berjalan sendirian apalagi untuk sebuah gerakan perubahan sosial. Anak muda butuh pada tetua terutama soal pengalaman hidup yang tentu mereka lebih memahaminya. Generasi tua butuh anak muda untuk bisa memahami pendekatan “masa kini”, memahami strategi yang benar dengan target era yang kini sudah berbeda dan butuh pendekatan sendiri.

Maka, kuncinya adalah seperti yang diajarkan sahabat dahulu. Menekan ego dan mencoba membuka diri satu sama lain. Jangan merasa saya paling benar tapi berusahalah melihat sisi benar tiap-tiap generasi. Karena hanya dengan cara ini kekuatan anak muda dan pengalaman generasi tua bisa menyatu menjadi sebuah kemajuan baru dalam Islam dan peradabannya.

#Belajarzakatbareng